Jumat, 10 Maret 2017

MANUSIA MAKHLUK MEMBUDAYA



Sebelum membahas mengenai manusia sebagai makhluk membudaya, perlu diketahui terlebih dahulu apa itu budaya. Menurut KBBI, budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah; sedangkan membudaya adalah menjadi kebudayaan atau menjadi kebiasaan yang dianggap wajar dan mendarah daging. Diantara banyaknya jenis makhluk, hanya manusia yang merupakan makhluk membudaya. Hal ini disebabkan karena hanya manusia yang memiliki akal budi serta diciptakan segambar dan secitra dengan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam Alkitab pada Kejadian 1:26-27 yang berbunyi “26Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan–ikan di laut dan burung–burung di udara dan atas ternak dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar–Nya; menurut gambar Allah diciptakan–Nya dia; laki–laki dan perempuan diciptakan–Nya mereka.” Ayat dalam Alkitab ini menegaskan bahwa hanya manusia yang diciptakan istimewa oleh Allah sehingga manusia memiliki hak yang istimewa juga yaitu berkuasa atas atas ikan–ikan di laut dan burung–burung di udara dan atas ternak dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi yang berarti manusia dapat berkuasa atas bumi dan segala isinya.
Meskipun manusia diberikan hak istimewa untuk berkuasa atas bumi dan segala isinya, namun bukan berarti manusia dapat mengeksploitasi dengan sesuka hati mereka. Manusia juga berkewajiban untuk menciptakan berbagai macam hal sebagai sarana hidup, memperbaharui hidup yang terasa sudah tidak memadai lagi, dan menyelidiki segala sesuatu secara mendalam sehingga dapat menerapkan hasilnya untuk kehidupannya yang konkrit. Kewajiban inilah yang telah disadari manusia agar tetap dapat memperoleh hak istimewa mereka sehingga manusia berupaya untuk melaksanakan kewajibannya secara berulang–ulang hingga pada akhirnya menjadi kebiasaan dan membudaya bagi manusia.
Seiring dengan berkembangnya jaman, pikiran dan akal budi manusia mulai berkembang hingga manusia berkemampuan untuk memikirkan dan bertanya tentang segala hal seperti sifat dirinya sendiri, lingkungan hidupnya, lingkungan sesamanya, lingkungan alamnya, bahkan lingkungan supra–alamnya yang semuanya dilakukan sebagai landasan untuk mengatur hidup manusia. Tidak sampai pada itu saja, menusia juga memikirkan bagaimana sesuatu seharusnya bersifat kemudian mulai menerobos cengkeraman fakta–fakta dengan mengadakan penilaian dan mengangkatnya ke dalam keputusan dan kebijakan. Hidup manusia ini selain berlangsung dengan mengarungi arus proses–proses kehidupan (imanensi) tetapi juga memberi penilaian serta melakukan perubahan (transendensi) dimana kebudayaan sebagai ketegangan antara imanensi dan transendensi dapat dipandang sebagai ciri khas istimewa kehidupan manusia.
Sebagai makhluk yang memiliki budaya, Koentjaraningrat menyebutkan adanya 7 unsur universal budaya dimana dalam kehidupan manusia dimanapun dan kapanpun selalu terdapat unsur–unsur kegiatan manusia yang jenisnya dapat digolongkan sebagai sistem, yaitu (1) manusia selalu berkomunikasi menggunakan bahasa, (2) pengetahuan yang akan selalu berkembang sehingga akan merubah kebudayaan manusia pula, (3) sejalan dengan pengetahuan, peralatan hidup manusia juga akan berkembang, (4) kebudayaan akan mata pencaharian sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup, (5) kehidupan manusia untuk berinteraksi dan bertransaksi dalam organisasi sosial, (6) kebudayaan manusia dalam berreligi, yaitu tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dan (7) seni sebagai produk manusia membudaya. Unsur–unsur tersebut diatas akan terus berkembang sehingga menyebabkan perubahan dalam kebudayaan manusia.
Perubahan dalam kebudayaan juga disebabkan karena sifat manusia yang tidak akan pernah puas terhadap segala sesuatu. Manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih dan lebih. Akan tetapi hal ini berdampak positif karena manusia akan lebih kreatif dan inovatif untuk berkembang. Hal ini terjadi karena manusia memiliki hak istimewa untuk berkehendak bebas namun tetap dalam batasan, meskipun pada kenyataannya banyak manusia yang melewati batas moral dan etika. Dampak dari hak istimewa untuk berkehendak bebas ini adalah manusia mampu mentransendensikan segala hal yang ditemuinya sebagai fakta yang membahani manusia dalam olah budaya. Fakta di sini bukan hanya segi–segi yang bersifat alam materi atau lingkungan fisik saja, namun juga tradisi–tradisi, norma–norma, adat–istiadat, kaidah–kaidah, yang semuanya merupakan warisan generasi sebelumnya, yang mereka inginkan untuk diteruskan kepada generasi berikutnya. Tradisi ini tidak serta–merta diterima namun manusia dapat menerima, menolak, bahkan mengubahnya sehingga tradisi sebagai budaya manusia tampak bersifat fleksibel.
Manusia dan kebudayaan merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan. Manusia selalu memberi wujud baru kepada pola–pola kebudayaan yang sudah ada karena manusia selalu bercampurtangan dalam proses pembentukan kebudayaan. Manusia dapat mengkritisi segala macam budaya yang ada dengan tidak menghiraukannya atau bahkan melawannya. Kadangkala manusia ingin mendobrak suatu budaya karena menurut pendapatnya budaya tersebut sudah tidak memadahi lagi sehingga perlu perubahan dan pembaharuan. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan selalu memperlihatkan dimensi baru: penilaian moral, pembelokan arah kebudayaan, dan dorongan pembaharuan kebudayaan. Hubungan yang tak terpisahkan antara manusia, budaya, dan kebudayaan ini menyebabkan suatu ciri khas bahwa manusia adalah makhluk yang membudaya.
Image result for manusia budaya

Oleh: Fabianus Kevin Nanda P